Selasa, 16 November 2010

Waktu tak sempurna


Begitu ingin peluk rapuh mu
Sungguh aku yang tak pernah tahu
Sesak itu .. ternyata bukan pada kisah kita
Hanya perjalanan hidup yang membawa jauh

Duduk bersama di bawah bintang yang sama
Benafas seirama dengan udara yang sama

Masih tersimpan nyata di sana
Sekeping hati dengan pahatan sempurna
Bukan gurat membekas luka yang dahulu ku kira ada
Hanya ukir sempurna seuntai indah nama untuk selamanya

Ahh... tak lekang ku rasa
Biarkan di sana
Tinggalkan kenang pada masing masing kita

Yang terindah yang terbaik..
Begitu nyaman bersandar hangat jemari berpaut
Cukupkan tak selamanya
Cukupkan indah walau dalam putaran hari yang bahkan tak sempurna


Cukupkan untuk kita biarkan tak pernah sempurna
Maafkan untuk semua prasangka
Tapi sudahlah...
Bukankah ini terbaik untuk kita


Sekali lagi ku pandangi lekat lekat binar coklat berpantul pd binar mu
Maka cukuplah itupun bagi ku
Indah yang tak pernah sempurna

Sabtu, 13 November 2010

U..


There was one time I was unable to close my ayes and you came

just talking about little things...

There was one time I flushed blosom on my own way just heard you call me by that name

There was one time I feel comfort being near you

like a little girl who gets all thing that she ever wishes



There in the old rain now we are different

You have you'r own rain like i have my own too



However sometimes I miss the past like staring at the face in silence

When the spark softly came with the smile... single smile that i love most

When a thing in brown speak with his own language



It not just a word.. more than everything

Let me see it.. just one's more

Too make sure i can find the same spark

although we not in the same rain



You who have the shine brown aye's

You who are laughing at my stupidity

Find your own umbrela cause i'll find mine too





some how i doo miss U

the one who have nice brown aye's and never realize it....

an now i miss the street.. our street

Kamis, 28 Oktober 2010

Detak mendoa


Entah bagaimana terasa smakin dekat..

Untuk wajah lekuk blm terlukis

pada hangat gulung senyum belum terbayang

debar berdetak pertemuan asing tatapan

sungguh penuhi udara tiap tarikan nafas terasa kau ada

ku tunggu saja putaran waktu pd titian mendoa

bukan hanya dari ku...

hingga masa bawa indah sungging tunggal milik diri

saat kau temukan... aku



smoga saat mereka terkasih kembali kau nyata pelengkap bahagia yg juga bagian dari kami

hari,bulan,tahun,hingga akhir penutup nanti...

^.^

Pesan angin


Meniti hari saat meraba raut juga hati
Aku masih biru dengan rona warnaku
Tamparan malam sedikit memburam membekas kelabu
Hanya ulas tunggal lesung sederhana milik ku
Tak niatkan perih pada debar berbeda
Untuk hati yg terpanggil datanglah bersama angin...
Ku mohon ikuti gema suara memanggil
Sepenuh nya jadikan milik mu utuh sempurna
Agar tak lagi lukai debar berdegup lain ny

find me soon...
really need that arm that shoulder

Muara bertanya


Dua tetes bulir bening mengalir di satu muara

Lalu berkata..





“aku bulir bening dari sudut kerling seorang gadis yang pernah sangat mencinta, tapi sungguh telah kehilangan untai kasih pada putaran masa hingga tak lagi terasa dirinya pada tiap tiupan udara”

Lalu siapa kau …bertanya pada bulir bening lainnya

“aku bulir bening seorang lelaki yang sangat menyesal biarkan sejati ku berlalu pergi , terpeluk hampa dengan luka membekas akhirnya sungguh tanpa daya bahkan sekedar sebutkan ukir indah nama yang pernah ada”





Mengalir begitu saja dalam satu muara keduanya ada

Pahami rasa tidak juga terduga arah

Berlalu pergi akankah bertemu pada laut yang satu

Atau kembali pada laut yang berbeda …. “laut masing masing milik nya”

Tidakkah sadari perih gurat yang sama perlahan kikis hati

Satu muara bukan di peruntukkan bagi luka juga perih selimut jiwa

Satu muara persinggahan kembali peluk erat untuk apa yang dituju





Pada laut yang satu…

Maka bertanya arah mana jadi jalan mu..

Larung sunyi gemuruh laut menyambut muara berlalu





Jauh di sana…. Bayang masing masing pemilik kedua bulir bertanya

Dalam diam hanya duduk membisu di peluk kelabu

Terbaca perlahan degup saling malantun…. gaung di dada sebutkan “dia”

Ringkih merintih hanya gema tertatih

Jumat, 21 Mei 2010

U n me



Kelopak jatuh satu satu
Pandang binar nampak beda
Sungguh lukai aku ingat lalu kisah

Bukan parut gores milikku itu luka milik mu
Gelepar bergetar kuatkan tak biar tetes lemahkan tegar

Semua akan baik
Tak juga ku ukir janji
Hanya sungguh berusaha saja untuk mu

Lepas perih sudah lupakan
Lihat sore menutup hari nyata menjadi laku
Pintalah.....

Maka akan selalu ada
Aku...






entah gambaran apa terbaca
untuk tiap jengkal rasa tiap bilik cerita
akan bertumpu kembali pada satu pijakan yang sama
atau hanya susunan mozaik pecah...
yang berusaha kita tata

Satu perjalan yang masih tanpa ...mu


Sosok tersenyum lembut menoleh
Pertemuan sesaat sisa perjalanan ujung senja
Tanpa kata menoleh pada arah berbeda
Bisu seperti hari menutup tak bergeming


Dengarkan yang kau suka
Tak secuil curi ingin ku dengar juga
Pandang tumpukan berpenghuni
Lemparan batu pada jendela ruyam buyar lamun

Hanya kata seadanya "tak apa"
Kembali ke masing diri
Sampai satu tuju kemudian kembali pisah
Tak berbekas...


Akan berbeda bila kau
Tak habis cerita aku untuk tiap tempat tunjukkan betapa suka
Ada risau tanya bahkan genggam hangat untuk cemas nyata
Indah sungging merona
Sandar mimpi di harum bahu

Tak begitu
Hanya salam pisah hanya untuk bersama sesaat
Dia bukan kau adanya
Masih tanpa paras tak berbayang
Aku yang tanpa hadir mu

Nikmati sunyi di lembayung ku
kosong pandang jauh
kirim kan kabar jauh