Sabtu, 10 April 2010

"PUTRI" ...... bukan aku


Bukan sutra balut tiap lekuk ku
Bukan indah rubi tahta mahkota ku
Bukan untai permata hias jemari ku
Bukan lembut permadani alas rebah ku

Hanya sederhananya aku
Hanya senyum penghias ku
Hanya tulus harta milik ku
Hanya kesungguhan nyata hati ku

Bukan putri dari trah para raja atau pangeran
Bukan putri dengan rupa pualam
Bukan putri berlimpah sanjungan

Hanya putri kecil di tempat ku bernaung
Hanya putri kecil berlimpah kasih
Hanya putri kecil dalam indah dunia milik nya

Inilah sungguh diri...

Ingin menari pada harum taman kota
Ingin susuri tiap sudut jalan yang di suka
Ingin tulus bagi serpih luka juga manis cerita

Bila tak juga cukup ...maka bukan aku
Bila tak juga cukup....tujuan akhir mu
Sungguh bukan pada hati kecil milik ku....

Bayang

Jumat, 12 Maret 2010

debar itu... "milik ku"


Mendengar sayup debaran...
Dimana debar yang sama
Rasakan getar bila berdekatan beku saat waktu jadi siksaan
Dimana debar yang sama rasakan satu tentang ingin hati

Mengerti debar melemah kini
Seolah terlalu letih

Adakah menggema gaung bisik berseru
Tidakkah tersampaikan pada sejuk udara
Bukankah terbawa pada hangat matahari
Terlihatkah tergambar pada lukisan malam

Aku mencari mu...

Resapi maka akan mengerti
Bila sungguh yakini datang kembali
Berikan jawab untuk buah fikir tersimpan ini

Selukis wajah yang belum terbayang
Sebentuk hati yang belum di kenal
Seulas senyum yang hanya membayang
Sebentuk rasa yang belum terjamah

Pemilik separuh potongan kecil berwarna merah
Menoleh.. lihat...kenali


Entah wajah yang sama ataukah senyum yang berbeda
Sungguh hanya ingin meraba..


Apakah kau debar yang sama....

coklat indah itu


Kelopak menutup paksa rentas ujung jemari
Butir menurun tak sampai hangat pipi yang pernah datangkan debar saat tersentuh
Sembunyikan mereka...
Keduanya sendu

Jangan hindari biar jadi bagian diri
Lepas basuh dingin bening
Tak apa lepaskan saja
Lekat lekat tatap tak mampu kuatkan untai senyum
Runtuh juga menanda titik jatuh satu-satu

Untuk semua ucap untuk semua kata
Kuhapus juga milik ku bukan iba.. itu aku
Bergetar untuk sedih yang sama
Gamang untuk pelik yang tantang hari

Itu aku..yang juga rasakan
Biarkan menatap katakan semua baik pada akhir
Bulat coklat itu...
Izinkan laku buatkan indah binar nya seperti dahulu
Jangan meredup tidak lagi

Sepasang kerling dengan warna kesukaan ku..
Jangan mengalah pada hari akan selalu ada tempat kembali
Akan ada saat temukan rona berbinar
Percaya aku ada bahkan akan selau ada

Tanpa kau sadari menjaga indah warna tanah yang pernah jadi milik ku
Tanpa kau sadari menunggu dengan indah sungging yang sangat kau suka

Senja hari ini


Mengalun biru ku
Senja berat di ujung pundak
Hanya kilas balik sesaat saja
Pandangi potongan jauh bayang melambai...

Tertera juga di sana
Terjawab tanpa harus tanyakan nyata ada
Saat mengerti hanya tulus tersaji
Menjaga sepenuh nya

Sudah juga kau mengerti
Mengalun lagi nyanyian senja lembayung
Jingga merah nya nampak sendu

Ku nikmati bias tiap warna
Maafkan hanya suguhkan ikatan ini sabagai rasa
Pegang erat simpul nya
Untuk kali ini yakinkan tak terlepas lagi ikatan nyata

Indah untai kini peluk kita
Sore di sudut berbeda di masing masing...

hari ku ...
hari mu...


Dan bukan lagi hari kita.....

Patah di ujung kata

Aku...


Sudah kucuri detik jemput hari
Tak luput tanya pada surya
Menunggu bulat penuh juga tebar kerlip kecil
Sampaikan apa mereka temukan rupa

Terseok langkah terjegal potong kisah
Rundung hening ingat keras adakah ucap lukai
Atau laku bekukan kenang
Hingga nyanyian tak tembus kokoh diam

Angin enggan hantar kabar
Hujan murung berteman lara
Gambar diam bagian kecil tersimpan

Tidakkah mengerti …
Gemetar sudah jatuh tertunduk
Lihat ku bawa pintal kenang dalam gelembung rasa
Di malam juga siang milik ku
Terbang tiap untai nya
Pecah di awan gema gamang bersuara
Berseru hanya pada satu



Aku mencari mu