Kamis, 09 April 2009

Labirin


Mulai berlari di labirin hari coba temukan jalan sendiri
Ambil arah kanan putar balik ke belakang maju empat langkah ke depan lalu diam
Sedikit kelelahan bermain dengan rasa aku yang masih asik mencari
Terkadang bersandar di pelukan letih paksakan temukan ujung panjang nya liku
Dimana akhirnya dapati kamu sebagai akhir labirin kecil ku
Jemputlah saja aku tersesat
Bawa benang merah sebagai penenda jalan mu sampai bertemu ikuti nya bersama
Raih tujuan yang jadi ingin bersama
Berjalan atau tunggangi kuda putih ... terserah apa yang kau suka
Buatlah segera selagi desah nafas masih ada
Maka temukan aku segera...
Segera.....

Ilalang ku.....




Rindu itu ilalang....
Mengapa ada yang sangat terganggu dengan hadir rasa terkadang singkirkan nya
Gunakan apa saja gunting tegar sikap ketus bahkan terkadang laku tak pantas di buat pula
Agar terlupa tak lagi ada terbuang tak ingin lagi seolah haram hadir di hari benar tak guna
Mengapa begitu..
Mengapa tak biarkan tumbuh di tanah yang bernama hati terkadang tersiram titik titik kenangan
Buat nya segar kembali, aku suka rinduku.... ilalang ku
Tampak indah kala menari gemulai diujung senja
Tak pernah ingin rentas... buang...cabut dari tanah ku
Biarkan di satu bagian hati, aku yang berusaha tanam bibit bunga baru bilakah merekah rona
Bahagia kah kisah... entahlah, tapi sungguh tak lupakan hampar nya di seberang sana
Ilalang kupandang pastikan letak tetap indah di sisi berbeda
Bukan simpan yang tak patut di rasa hanya hargai pembelajaran bersama yang pernah ada
Berdamping doa, tidakkah sadar kau pernah disana....
Maka terangkan untukku rindu apa yang kau rasa rindu apa yang kau punya

Minggu, 05 April 2009

Aku... rasa ku


Malam bawakan mimpi tentang mu
Sungguh tak mengerti isi tuk aku maknai
Hari yang di lewati dengan cerita
Ada pintalan rasa disana
Entahlah..... tampak berarti hadir nya
Mukzizat harap untuk rasa yang sama
Tak cukup berani yakini kisah
Masih tentang nya sekeping hati
Tahukah perlahan sembuhkan luka
Sadar bekas tetap nyata
Aku yang mulai berdiri tak lagi ratapi peri
Kini ada penguat di hari
Hanya tulus untuk tiap laku
Menjaga harinya seperti dia menjaga hari ku
Cukuplah bagiku ada nya
Debar saat alun suara memecah hening terasa
Ada sesuatu ... aku ...
Ingin lari abaikan ini ...
Artikan untuk ku apa yang terjadi.........
Apa yang di ingini hati.........

Sabtu, 04 April 2009

"Untuk nya"


Maaf buramkan hari
Selipkan canggung dalam canda
Terusik cerita kau mulai jadi bagiannya
Hari tak lagi sama
Hening menjalar rasa
Resapi keping luka
Mengerti tak boleh lebih
Kumatikan segera tak ingin cemari indah nya
Acap terucap "terimakasih"
Lantun tulus kuterbangkan
Pesankan angin membawa
Setampuk doa untuk cinta mu juga
Terkadang lirih tilik lembaran kisah mu
Temukan bahagia itu
Agar kembali nikmati
Gulung ombak hantar deburnya
Bersama dia yang kau puja
Temukan bawa hangat mu saja
Agar dapat nikmati rona merah malu nya
Lari cari dia sejati...
Jangan rasakan perih lagi...
Kau yang menjaga...
Ingin kuceritakan pada semua
Betapa indah kau adanya

Jumat, 03 April 2009

..............................



Sesak
Rindu
Kamu
Aku
Dusta
Katakan
Tak lagi
Ada
Disana
"Rasa"
Sungguh Aku
Berdusta
Dengar dusta lainnya
Aku membenci Mu






Kamis, 02 April 2009

Aku..


Lembut angin belai tiap jengkal pori
Harum hantarkan peluk
Masih ingat gugup itu saat pandang bertaut
Merunduk sipu redup ku
Sudahlah......aku malu sungguh
Ragu raih ujung jemari
Hangat
Peluk lembut kecup mu
Tuhan...
Maafkan laku
Berkaca ujung kerling rasakan getar hati gemuruh
Diam.. apa...
Penuh tanya kutahu
Menunggu marahkah aku
Tak mampu utarakan
Kalbu mengerti sayang itu
Akupun peluk erat rasa milikku
"maafkan"
Sungguh aku padamu... ucap itu
Rasa yang bukan hanya aku
Kaupun begitu...
Mengapa tak sedari dulu
Saat aku masih menunggu...
Kini tercekat lisan kelu

Rabu, 01 April 2009

Cerita Sore


Seorang asing datang di sore
Entah dari mana terangkan harimu yang tanpa aku
Senyum awal ubah haru ingat kisah
Tanyakan arti aku terdahalu untuk mu
Jawab seadanya gurau khas ku
Tujuan apa di bawa jelaskan sesuatu kurasa
Syair bagi belahan jiwa kau simpan
Kembali bertanya dia...
Apakah aku bagian dari itu
Senyum terendap pilu...pernah terdahulu
Hanya yg jadi jawab tak terlanjutkan
Tak lagi ada hak bahkan untuk sekedar meraba hati
Aku tak mampu... hati milik mu
Tak pantas jemari rasakan rawat goresan itu
Bukankah aku yang torehkan gurat luka
Bukan sesal sujud ujung malam untuk ikhlas
Hanya doakan terbaik bagimu di hari
Cukupkanlah untukku rasa syahdu
Akupun nyata simpan luka yang sama...
Balahan jiwa