Rabu, 11 Maret 2009

Enggan mu


Angan

Entah apa tertangkap rasa
Tergulung hati.. enggan
Hanya kata itu terlintas angan
Terlalu mungkin dahaga yang belai jiwa...
Bahkan tetes tetes semu begitu sejuk gugah kalbu kian lelah melayu
Termangu bisu bingkai merapuh entah pada siapa bersimpuh
Malam tersia........ sudahlah tak harap untuk yang tak pernah ada
Kembali rebah sendiri lelah tahan sesak...
Setidaknya ada kelambu mimpi....bungkus ku dari semua perih
Peluk erat jiwa karna sungguh hanya ini yang ku punya
Curi sedikit putaran malam...
Rasakan indah nya tanpa nyata tenggelam retak di buai angan
Biarlah.... bukan ratapi hanya ingin petik sari kepedihan tertoreh hati...

Selimut itu....


Selimut Rindu



Teringat perjalanan
Saat masa merajut cerita ada kisah indah disana
Pintalan benang rasa dalam lembut rajutan jarum kasih
Kadang butuh gunting hati putuskan kusutnya prasangka
Sambung kembali jujur berbahan dasar hati
Tak jarang ada lubang amarah disana.........
Maka tutup dengan perca kain tulus maaf untuk masing masing kita
Banyak pernak pernik duka suka tawa bahkan luka dan air mata
Sunggingkan senyum tetap dengan kesedihan tentang nya
Aku yang dekat erat rasa bila ingin ingat semua cerita
Selimut kenangan milik kita
Adakah sama kau rasa.........
Saat rindu yang pernah nyata menyelinap curi perhatian hati...
Sementara...... sesaat saja....

Kamis, 05 Maret 2009

" **** "



Pagi ku buram.......
**** tak ingin buka jendela pandang dunia
tarik selimut jadikan kepompong berlindung dari semua
**** apa sebenarnya kulewati
teriak memaki......mengapa hanya getar dalam diri
butuh tempat itu.......benar benar membutuhkannya
buang semua penyakit gerogoti hati
tidak.......tidak akan lagi
bangunlah....."putri"
dunia panas,binal,kotor,palsu tawarkan semua terselubung rasa sementara
**** aku benci hari ini
**** terpaku di kelu bisu........
****












" **** " ("sial")
tak pantas terucap tapi acap terasa..
teriaklah...teriak sepuasnya
Argh......................... "**** "

Tanpa kata



..........
Sore ini penghujung hari ku sepi
deru debu jalanan terhapus butiran air..
entah apa dalam kata tak terucap....ada rasa berbeda
hati mengecap...
rasa yang dulu perlahan mengabur kini menari di sudut bilah hati
mengendap perlahan tapi susuri pasti
seolah tak ingin tertangkap pemilik hakiki
dari mana datang seri
malam gundah peraduan berteman sunyi
sudut raut mengulas sunging senyum
ini tentangnya....
tapi siapa,rasa meraup logika terpenjara
aku ingin nikmati saja
biarkan merasa... walau nyata semu bagian nyata
tak juga cemas akan esok..
pasti ada dan aku tetap hanya merasa...
dalam diam.. tanpa kata

Rindu "Putri"

Mengapa begitu rindu ku......

Pucuk daun tunduk di bening embun
Helai demi helai pagi terbit
Belum hilang berarak pergi kabut saat ruh kembali peluk raga
Fajat ini begitu lirih rindu ku

Bunda............
Untai kasih jalinan doa selalu menjaga
Betapa raga dahaga lembut belai sejuk kata
Mengalun indah nada hapus resah selaksa

Ayah.....
Tegas laku tertempa jiwa
Di balik keras itu indah sebuah cinta kau jaga
Teruntuk seorang putri tercinta....ananda

Adik....
Penopang saat tak terduga
Bawakan nyaman rasa
Pelindung kungkungan lara bawakan ceria

Untuk apa aku tinggalkan mereka...
Sampaikan masa aku pulang segera
Maka beri sejumput dari putarannya
Agar dapat persembahkan bahagia

Semua yang tercinta...
Sampaikan semilir angin betapa hati merindu saat bersua
Beritakan hujan kesedihan saat berjauhan
Tunggulah hadir ku....saat fajar menjelang

Loli


Loli......manis nya

Indah cinta membahana
Jilatan nakal indra perasa
Manis hingga geliat kalbu

Cinta kini terasa semanis loli
manis sakali....
Tak ingin hentikan unjung perasa menari

Tapi bukankah loli akan habis
Akankah tertinggal hampa
Lalu terdiam..........

Loli yg jadi kisah cinta
Semu berujung hampa
indah sesaat,mudah terlupa, tak berbekas

Rasa sesaat..........
Geliat dosa
Bagi penikmat manis nya

Rabu, 04 Maret 2009

Buram.............




Buram cahaya pelangi

Pelangi bias sisi warna terlukis rasa hati
Berkurang wajah mu nan seri
Aku tahu...... warna berkurang satu
Jingga mengabur seperti arti di hari ku

Terlalu rentang waktu jarak beradu
Redup koyak dinding harap
Sungguh rindu cekik nafas,duhai cintaku
Sesak dada hujam tiap relungku

Sampaikan majas bermakna terkasih
Harap angin bawa bisik janji hati bersangkar perih
Rintik hujan bagai mengerti
Untuk yg dirasa hati

Bawakan kembali
Binar jingga itu lagi
Hiasi kembali lukisan tahta pelangi
Di dinding relung hati berbalut imagi